Selasa, 22 September 2009

Semoga Amal Diterima Alloh

selamat idul fitri

4 komentar:

  1. SELURUH keluarga MENGUCAPKAN:
    SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
    SEMOGA KITA BENAR-BENAR KEMBALI KEPADA FITRAH-NYA, AMIN.

    BalasHapus
  2. Setiap hari raya idul fitri datang, tidak hanya baju baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. Yaitu tradisi halal bi halal.
    Halal bi halal, adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa Negara tetangga dalam rumpun melayu, seperti Malaysia. Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain.
    KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Tradisi Lebaran, Tradisi Melebur Dosa (2006), menengarai tradisi halal bi halal itu dilakukan setelah njungkung sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan ikhlas, hanya memburu ridho Allah, agar dosa-dosa kita (ummat Islam) diampuni.
    Namun, tambah budayawan penulis buku Lukisan Kaligrafi ini, dosa yang diampuni itu hanya yang berhubungan langsung dengan Allah. Masih ada dosa lain yang berkaitan dengan sesama kita, antar kita, dimana ampunan Allah bergantung pada pemaafan masing-masing yang bersangkutan. Apabila anda saya sakiti atau saya zalim dan anda tidak memaafkan saya, Allah pun tidak akan mengampuninya sampai anda mau memaafkan saya.
    APA ITU?

    “Idul fitri” sendiri diambil dari nama zakat yang wajib dikeluarkan oleh orang-orang Islam yang mampu, sebelum ied (hari raya) tiba, yaitu zakat “fitrah”. Sementara “lebaran”, dalam pandangan masyarakat umum, lazim dipahami sebagai sebuah perayaan yang diadakan usai (jawa: lebar) melaksanakan puasa Ramadhan.

    BalasHapus
  3. Bab: Tidak ada Adzan Dan Iqomah dalam Sholat Hari Raya (idul fitri & idul adha)
    (427) Jabir bin Samuroh mengatakan: Aku pernah sholat dua hari raya bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak hanya sekali ataupun dua kali-, (beliau melakukannya) dengan tanpa adzan dan iqomah.
    Bab: Sholat Hari Raya (idul fitri dan idul adha) adalah Sebelum Khutbah
    (428) Ibnu Abbas mengatakan: aku pernah menghadiri sholat hari raya idul fitri bersama Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mereka semuanya melakukan sholat idul fitrinya sebelum khutbah, kemudian (setelah itu) berkhutbah.
    Ibnu Abbas mengatakan lagi: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- lalu turun (dari mimbar), dan seolah-olah aku sekarang sedang melihat beliau ketika sedang menyuruh duduk jamaah laki-laki dengan (isyarat) tangannya. Kemudian beliau membelah (barisan) mereka, sehingga sampailah beliau -yang waktu itu bersama Bilal- kepada jamaah perempuan dan beliau membaca ayat ini (al-Mumtahanah: 12): “Wahai Nabi, apabila para perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai’at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Alloh…” beliau membaca ayat ini sampai selesai. Setelah selesai membacanya beliau menanyakan: “Bukankah kalian sebagaimana ayat ini?!” Ada satu orang perempuan menjawab: “Benar wahai Rosululloh”. Saat itu tidak diketahui siapa gerangan perempuan itu. Kata beliau: “(kalau demikian), maka bersedekahlah!”. Lalu Bilal membentangkan kainnya seraya mengatakan: “Marilah (bersedekah), Ayah dan ibuku sebagai tebusannya untuk kalian!”. Dan Mereka pun segera melemparkan gelang dan cincin ke dalam kain (yang dibentangkan) Bilal itu.

    BalasHapus
  4. Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa beliau telah meninggalkan 2 perkara yang apabila manusia berpegang teguh kepada keduanya mereka tidak akan tersesat selamanya. Kedua perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka menjadi sangat penting bagi orang Islam untuk memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketertinggalan ummat Islam dari ummat lain dalam berbagai bidang kehidupan bukan karena kehebatan ummat lain, tetapi karena ummat Islam tidak memahami ajaran agamanya sendiri.
    Mereka hidup terombang-ambing oleh keinginan hawa nafsunya, tidak memiliki pegangan yang kuat. Sebagian karena tidak memahami Al-Qur’an dan sebagian lain karena tidak mentaati Al-Qur’an. Menurut Imam Ibnul-Qayyim Al-Jauziy kelompok pertama tidak memperoleh hidayah ilmu, sedang kelompok kedua meski telah memperoleh hidayah ilmu tetapi tidak memperoleh hidayah amal.
    Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah akan memberinya kefahaman dalam agamanya. Faham terhadap agamanya berarti memahami Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang merupakan warisan yang sangat berharga bagi ummat manusia yang mau memahami dan mengimaninya.
    Bagi kita ummat Islam harus mengimani sepenuh hati, tanpa ragu, bahwa hanya dengan Al-Qur’an manusia secara pribadi maupun secara keseluruhan bisa menjadi baik dan selamat dalam hidupnya di dunia ini maupun di akhirat kelak.
    Imam Malik mengatakan, “Tidak akan dapat memperbaiki (keadaan) ummat akhir ini melainkan dengan apa yang pernah memperbaiki (keadaan) ummat pertamanya”. Rasulullah SAW memerintahkan, “Beredarlah kalian mengikuti Al-Qur’an ke mana saja dia beredar [HR. Hakim].
    Dan sabdanya yang lain, “Barangsiapa menjadikan Al-Qur’an itu di depannya (untuk diikuti) maka akan membawanya ke surga, dan barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an itu di belakangnya (mengikuti hawa nafsunya), maka akan memasukkan ke dalam neraka. [HR. Ibnu Majah]
    Dari situ jelaslah bahwa manusia sejak dahulu sampai sekarang ini tidak akan bisa menjadi baik tanpa memahami dan mengikuti Al-Qur’an.
    Lebih tegas lagi Allah SWT menjelaskan, “Ini adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan, penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. [QS. Shaad : 29].
    Dan juga firman Allah SWT yang artinya, “Dan (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [QS. Al-An'aam : 153]
    Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Qur’an, sedang dia dibacakan kepada mereka ? Sesungguhnya dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. [QS. Al-'Ankabuut : 51]

    BalasHapus